Hindari Dua Hal ini, Niscaya Umat Islam akan Bangkit

oleh: Ust. Wandi Bustami, Lc., M.A

Setiap orang beriman mesti memperhatikan bagaimana anak-cucu keturunannya di kemudian hari. Karena mereka adalah jembatan yang menghubungkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Syekh Yusuf al-Qardhawi dalam Jailu an-Nashri al-Mansyūd mengatakan suatu generasi harus memiliki sifat yang mengajak kepada al-haq (kebenaran) dan al-‘Adl (keadilan). Dua sifat ini termaktub di dalam firman-Nya QS al-A’raf 181.

Secara tegas Allah swt telah mengabarkan kepada manusia bahwa seorang muslim tidak boleh meninggalkan generasinya dalam keadaan lemah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَا فُوْا عَلَيْهِمْ ۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا

Artinya

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 9).

Apa yang dimaksud dengan kata lemah dalam ayat ini, dan kapan suatu generasi disebut lemah serta apa efek sampingnya?.

Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan pertanyaan besar yang membutuhkan jawaban panjang. Namun bila disingkat semua jawabannya bermuara pada dua hal pokok yaitu setiap mukmin harus menjauhkan anak-cucu keturunan lemah pada pendidikan agama dan lemah dalam bidang ekonomi. Rinciannya sebagai berikut.

  1. Lemah Pendidikan Agama

Pendidikan agama merupakan perkara dasar pada setiap umat Islam. Sehebat apapun seseorang tiada bernilai di hadapan Allah swt bila tidak beragama. Harta yang melimpah, pendidikan yang tinggi, prestasi yang menggudang dan popularitas yang mentereng tiada bermakna jika jauh dari agama.

Rasulullah saw dalam salah satu kaulnya mengatakan bahwa agama adalah benteng segala urusan.

Rasulullah saw bersabda:

Artinya:

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan! HR. Muslim.

Beberapa saat sebelum Nabi Ya’kub as dijemput ajalnya berpesan kepada anak-anaknya terkait apa yang mereka sembah sepeninggalnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Artinya:

Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, Apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab, Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 133).

Bagaimana dengan para orang tua saat ini, seberapa besar mereka telah mempersiapkan pendidikan agama anak-anak mereka?. Mungkin bila soalan ini yang kita jawab maka bisa mengernyitkan dahi. Sebab dewasa ini para orang tua sangat sedikit memberi porsi pelajatan agama pada anak-anak mereka. Bahkan salah satu penelitian kecil-kecilan di kota besar menyimpulkan tidak lebih dari 30% anak-anak Indonesia bisa membaca al-Quran.

Tentu hal yang demikian ini membuat hati kita tersayat. Negara yang manyoritas berpenduduk Islam dan bahkan kata Malik bin Nabi pernah berkata Islam akan bersinar dari Indonesia ternyata penduduknya awam dengan al-Quran.

Jika kita perhatikan dengan seksama nasehat nabi Ya’kub di atas, maka itu juga membuat hati kita miris. Jarang dan bahkan mungkin tidak dapat dijumpai saat ini seorang ayah/ibu berpesan kepada anak-anaknya terkait apa yang mereka sembah sepeninggalnya kelak. Bahkan yang berlaku saat ini para orang tua risau dan takut dengan apa yang dimakan anaknya kelak.

Mempersiapkan ekonomi yang mapan bagi anak adalah suatu keharusan, namun perkara agama adalah nomor satu yang tidak dapat dikesampingkan. Jadi, agama harus selalu dimenangkan dalam segala hal. Setelah agama bagus, maka ekonomi pun harus bagus. Bagian ini dibahas selanjutnya.

  1. Lemah Ekonomi

Setelah seseorang bagus agamanya, ia kemudian berkewajiban untuk memperkut ekonominya. Dalam hadits disebutkan: Hampir-hampir saja kefakiran itu menyebabkan kekafiran. Artinya orang yang hidup miskin dan meminta-minta dapat menyereret kepada kekafiran. Ada orang rela meninggalkan agama demi indomie satu kardus dan rela murtad demi mendapatkan pasangan kaya raya.

Ekonomi menjadi salah satu kunci tegaknya peradaban islam. Namun bila ia berdiri sendiri tanpa dikawal oleh worlview Islam maka pradaban akan pincang. Ekonomi yang kuat harus ditopang oleh agama yang kuat pula.

Mengenai betapa urgennya memperhatikan perihal ekonomi, Rasulullah saw pernah berpesan jangan sampai meninggalkan anak cucu dalam keadaan fakir sehingga meminta-minta kepada manusia.

Rasulullah saw bersabda:

Artinya:

Dari ‘Amir bin Sa’d ia berkata, Aku menderita sakit kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengunjungiku. Aku berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta yang banyak dan tidak ada yang mewarisiku kecuali anak wanitaku, bolehkah aku bersedekah dengan dua pertiga hartaku? Beliau bersabda: Tidak. Aku lalu bertanya lagi, bagaimana jika setengah? Beliau menjawab: Tidak. Aku bertanya lagi, Bagaimana jika sepertiga? Beliau bersabda: Sepertiga, dan sepertiga itu banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan para pewarismu dalam keadaan kaya lebih baik bagimu daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, dan meminta-minta kepada manusia.” HR. An-Nasā’i

Untuk mewujudkan generasi yang tidak bermental miskin maka orang beriman harus kuat.

Rasulullah saw bersabda:

Artinya:

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta ‘ala daripada orang mukmin yang lemah. HR. Muslim.

Sangat jelas apa yang dikatakan dalam hadits ini yaitu mukmin yang kuat lebih Allah sukai dan cintai daripada mukmin yang lemah. Kuat agamanya dan kuat ekonominya. Dua-duanya ibarat mata uang yang saling melengkapi.

Yang banyak berlaku saat ini ialah seorang mukmin yang kuat agamanya namun lemah ekonominya dan kuat ekonominya tapi lemah agamanya. Maka oleh karenanya, seorang mukmin disamping agamanya bagus, ekonominya juga kuat.

Ust. Wandi Bustami, Lc., M.A

(Asatid Tafaqquh)

About the author

Supriadi, ia Lahir 13 Mei 1998 di Desa Padang Sawah, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Ia adalah putra bungsu dari Bpk H. Sadario dan Ibu Hj. Rosmiati. Ia menempuh pendidikan dimulai dari SDN 017/003 di Desa Kelahirannya, dilanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Dar-El Hikmah Pekanbaru-Riau selama 6 tahun. Waktu berjalan dan terus berjalan, hingga Allah menakdirkan ia masuk di Prodi Hukum Islam, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Di sana ia memiliki 4 mimpi baru, yaitu peneliti, motivator, entrepreneur, dan da’i. Sejak di kampus, ia aktif menulis gagasan ilmiah, mengikuti event-event Nasional dan Internasional, mengajar agama untuk anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), berdakwah dan aktif menulis jurnal ilmiah. Ia tidak hanya aktif mengikuti organisasi-organisasi kampus, maupun di luar kampus, tapi ia juga berperan aktif di tengah masyarakat dengan mengabdi sebagai marbot masjid. Selama ia kuliah S1 di UII ia telah menorehkan lebih dari 30 penghargaan prestasi dari institusi ternama di Dalam Negeri & di Luar Negri.
Ia juga telah beberapa kali menjadi Speaker (pembicara) di kegiatan International Conference di 3 Benua. Ia juga dipercaya Pimpinan Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia menjadi Ketua Mahasiswa Editor Jurnal at-Thullab. Ia juga sempat terpilih menjadi mahasiswa Hukum Islam Berprestasi serta mahasiswa terbaik 2018/2019. Dan sekarang ia menjadi asisten Wakil Dekan II di Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat