ISTAFTI QOLBAK

“Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa saja yang meragukan jiwamu dan kamu tidak suka memperlihatkannya pada orang lain” (HR. Muslim)

Biarkan hatimu berbicara….

Kawan, tanyakanlah pada dirimu, apakah yang sedang kamu kerjakan termasuk bagian dari kebaikan atau bukan? Apakah dia termasuk bentuk ketaaatan kepada Allah dan Rasul-Nya atau bukan? Atau justru perbuatan tersebut akan mendatangkan murka Allah?

Tanyakan juga pada dirimu, apakah yang kamu kerjakan saat ini sesuai dengan passion-mu? Tanyakan pada dirimu, apakah pekerjaan yang sedang kamu kerjakan sesuai dengan bakat minatmu, atau hanya ikut-ikutan teman saja? Tanyakan pada dirimu, apakah engkau belajar dengan hati yang lapang atau hanya terpaksa?

Maka tanyakanlah semua itu pada hatimu…

Di antara karunia yang Allah berikan kepada manusia, adalah hati yang mereka miliki. Allah menjadikan fitrah dalam hati manusia untuk mengenali cahaya kebenaran. Kebenaran mengandung cahaya yang hati akan mengenalinya sebagaimana juga kebatilan mengandung kegelapan yang mana hati akan mengingkarinya. Dengan demikian, pada dasarnya manusia bisa membedakan yang baik dengan yang buruk, yang salah dengan yang benar dengan hati yang mereka miliki.

Kebaikan adalah apa saja yang dapat menenangkan hatimu dan menentramkan jiwamu, sedangkan keburukan adalah apa saja yang membuat hatimu ragu dan tidak tenang.

Aktivitas dan pekerjaan yang sedang kamu kerjakan, di saat kamu mau memulainya coba tanyakan dulu pada hatimu.. apakah ini benar-benar bidang yang ‘saya’ sukai dan saya benar-benar mampu untuk mengerjakannya atau malah tidak..

Ketika kita sulit untuk membedakan antara kebaikan dengan keburukan, maka sesuangguhnya kita bisa meminta pendapat dari hati kecil kita mengenai hal tersebut, karena hati yang suci tidak akan pernah berbohong kepada tuannya. Secara fitrah, manusia akan terusik jiwanya, kehilangan ketentramannya, tertekan dan gelisah manakalah melakukan perbuatan dosa. Kendati demikian, manusia membenarkan perbuatannya tersebut. Karena perbuatan tersebut akan berlabuh di hatinya. Sedangkan hati merupakan sentral dari baik buruknya seorang manusia.

Sampai di sini kamu sudah paham?…

Artinya, ketika kamu melakukan sebuah kebaikan, jangan lihat kecilnya dulu kebikan yang kamu lakukan, tapi lihatlah bagaimana kebaikan kamu menjadi arus yang mengalirkan kebaikan lain yang hadir lewat tangan orang-orang yang tak pernah kita sangka. Betapa besar hikmah kebaikan, ia mampu menggoda orang yang enggan melakukan kebaikan untuk mencintai kebaikan.

Bukan hanya itu, berbagi, menolong, berkorban, dan membantu sesama, akan memberikan kesejukan, ketenangan dan kehangatan di hatimu. Ingatlah pesan Rasulullah Saw, “Berkasih sayanglah kamu kepada siapa saja yang berada di bumi, maka kamu akan dikasihi oleh yang berada di langit”. 

Bukankah Rasulullah juga pernah mengingatkan kita, Istafti Qolbak, mintalah fatwa pada hatimu, kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hati tenang, dan keburukan itu sesuatu yang membuat jiwa gelisah dan hati bimbang. Hati adalah sumber cahaya batin, inspirasi, kreativitas, dan belas kasih. Seorang mukmin sejati hatinya hidup, terjaga dan dilimpahi cahaya. Kawan, jangan biarkan visimu hanya tentang dirimu saja, jangan biarkan dirimu bervisi kerdil. Jadikan orang-orang yang kurang beruntung bagian dari visi besarmu…

About the author

Supriadi, ia Lahir 13 Mei 1998 di Desa Padang Sawah, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Ia adalah putra bungsu dari Bpk H. Sadario dan Ibu Hj. Rosmiati. Ia menempuh pendidikan dimulai dari SDN 017/003 di Desa Kelahirannya, dilanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Dar-El Hikmah Pekanbaru-Riau selama 6 tahun. Waktu berjalan dan terus berjalan, hingga Allah menakdirkan ia masuk di Prodi Hukum Islam, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Di sana ia memiliki 4 mimpi baru, yaitu peneliti, motivator, entrepreneur, dan da’i. Sejak di kampus, ia aktif menulis gagasan ilmiah, mengikuti event-event Nasional dan Internasional, mengajar agama untuk anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), berdakwah dan aktif menulis jurnal ilmiah. Ia tidak hanya aktif mengikuti organisasi-organisasi kampus, maupun di luar kampus, tapi ia juga berperan aktif di tengah masyarakat dengan mengabdi sebagai marbot masjid. Selama ia kuliah S1 di UII ia telah menorehkan lebih dari 30 penghargaan prestasi dari institusi ternama di Dalam Negeri & di Luar Negri.
Ia juga telah beberapa kali menjadi Speaker (pembicara) di kegiatan International Conference di 3 Benua. Ia juga dipercaya Pimpinan Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia menjadi Ketua Mahasiswa Editor Jurnal at-Thullab. Ia juga sempat terpilih menjadi mahasiswa Hukum Islam Berprestasi serta mahasiswa terbaik 2018/2019. Dan sekarang ia menjadi asisten Wakil Dekan II di Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat