Jangan Berburuk Sangka Pada Allah

Izinkanlah saya berbagi kisah saya pribadi beberapa tahun yang silam. Kisah ini diawali pada saat saya mengenyam pendidikan di Pesantren Dar-El Hikmah Pekanbaru-Riau, kala itu saya masih duduk di bangku kelas 2 Madrasah Aliyah, kisaran tahun 2016 silam.

Pada saat jam pembelajaran Mahfuzhot yang diampu oleh almukharrom Ustadz Rahmad Wahyudin, saat pembelajaran itu, beliau bercerita “dulu di kampung saya ada seseorang yang berjualan tahu. Subuh-subuh dari rumahnya ia sudah berangkat ke jalan besar untuk mencari travel, agar bisa membawanya ke pasar.

Rumah pedagang tahu itu terletak di tengah sawah, jalan di sekeliling rumahnya begitu kecil, sempit dan penuh lumpur. Jalan setapak itulah yang setiap harinya ia lewati sambil berteriak “Tarahu-tarahu”.

Setiap hari, sejak subuh-subuh ia sudah menyiapkan dagangan tahunya untuk dijual di pasar. Sampai pada suatu hari, ketika berangkat dari rumah melewati jalan setapak di tengah sawah, dengan agak terburu-buru, kadarallah ia terjatuh dan bajunya kotor sampai tahu, barang dagangannya pun juga penuh dengan lumpur.

Ia mengatakan dalam hatinya, “sungguh Allah tidak adil.” Kemudian ia pulang ke rumah untuk mandi dan mengambil tahu yang masih tersisa untuk bisa dijual kembali ke pasar.

Tapi, ia sudah kesiangan sampai di jalan besar, hingga travel yang biasa membawanya ke pasar sudah berangkat meninggalkannya pada saat itu. Kemudian ia berteriak sangat keras dengan penuh kekesalan, “Allah sungguh tidak adil, padahal saya ingin berjualan ke pasar untuk mencari rezeki, tapi Allah malah kasih cobaan sial seperti ini.”

Kemudian ia pulang ke rumah (dengan raut muka kesal dan marah). Sampainya di rumah, istrinya bertanya, “Kenapa cepat pulang hari ini, Kang?” Si suami menjawab (dengan raut muka kesal dan marah), “Tidak mengapa.” Sembari istrinya membuatkan kopi untuknya.

Sore harinya ada tetangga yang datang sambil teriak, “Akang…. akang…. (panggilan akrab bagi orang Sunda) mobil travel yang berangkat pagi tadi jatuh ke jurang, semua penumpang dinyatakan tewas.” Saat itu juga ia tarik ucapannya tadi (Allah tidak adil), sembari ia langsung sujud syukur kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Andai ia tadi tidak terjatuh di tengah sawah, maka sudah pastilah ia naik ke travel itu, dan juga ikut mati bersama penumpang lainnya.

Kawan, ada banyak sekali fenomena seperti ini yang kita saksikan. Kita lihat di televisi beberapa tahun belakangan, tepatnya tahun 2018, ada pesawat Lion Air jatuh di kerawang. Kita lihat ada berita yang mengatakan di stasiun televisi, ada salah seorang penumpang yang telat masuk ke pesawat saat itu lantaran macet di jalan, andai penumpang itu tidak kena macet pastilah ia juga ikut jatuh bersama penumpang lainnya di pesawat Lion Air itu.

Tapi Allah Maha tahu yang terbaik bagi hambanya. Mungkin kita juga pernah mengalami yang demikian, kita sangka Allah itu tidak adil, tapi dua hingga tiga hari ke depan, kita mengetahui kenapa Allah melakukan hal itu kepada kita.

Sahabat… bagi kita sesuatu yang baik itu adalah mengasyikkan, mengenakkan, menguntungkan, dan memudahkan, sesuatu yang buruk ialah yang tidak mengasyikkan, merugikan, dan menyulitkan, tidak semuanya seperti itu.

Allah itu melihat sesuatu yang baik adalah kebaikan yang sempurna untuk kita hambanya, bukan kebaikan yang sifatnya sementara. Boleh jadi kebaikan dari Allah itu sesuatu yang tidak asyik, sesuatu yang merugikan bagi kita. Itulah alasan kenapa yang baik kita sangka buruk, yang buruk malah kita sangka baik.

Sahabatku yang kucintai karena Allah, itulah sebabnya kita tidak boleh berburuk sangka pada Allah. Kita manusia hanya bisa melihat yang tampak oleh mata saja, hanya secara zhahirnya, namun ada sesuatu yang ghaib, yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata manusia, tapi Allah maha melihat, melihat jauh dari apa yang tidak kita lihat.

Hal tersebut memang manusiawi, tapi sebagai seorang muslim, tidak selayaknya kita berburuk sangka pada Allah. Ada kalanya yang indah itu bukan sesuatu yang terbaik. Ingat kawan, Allah tidak akan menguji seseorang hambanya tanpa batas kemampuan seseorang hamba tersebut.

Syeikh Ibn Atha’illah pernah berpesan yang disampaikan dalam kitabnya, ‘al-Hikam’, “Tidak sepatutnya seorang hamba berburuk sangka kepada Allah akibat doa-doanya belum dikabulkan oleh-Nya. Dan sebaiknya bagi hamba, yang tidak tahu apa yang akan terjadi atas dirinya esok hari, segera melakukan introspeksi diri.”

Kawan, kita kadang kurang mampu mengendalikan kehendak untuk selalu ingin cepat selesai, tergesa-gesa atau terburu-buru. Situasi tersebut sepintas menguntungkan karena mendorong kita untuk banyak berdoa dan giat berusaha. Tetapi hakikatnya tidak mendidik, karena fungsi hati nyaris tak berdaya karena nafsu yang dominan.

            Sahabatku, nikmat yang menjauhkan kita dari Allah adalah musibah, sedangkan musibah yang mendekatkan kita kepada Allah adalah karunia nikmat. Cobaan yang terlihat buruk oleh mata, bisa jadi dapat menghilangkan rasa sombong di hati dan mendekatkan diri kepada Allah.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (QS. al-Baqarah/2: 216).

About the author

Supriadi, ia Lahir 13 Mei 1998 di Desa Padang Sawah, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Ia adalah putra bungsu dari Bpk H. Sadario dan Ibu Hj. Rosmiati. Ia menempuh pendidikan dimulai dari SDN 017/003 di Desa Kelahirannya, dilanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Dar-El Hikmah Pekanbaru-Riau selama 6 tahun. Waktu berjalan dan terus berjalan, hingga Allah menakdirkan ia masuk di Prodi Hukum Islam, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Di sana ia memiliki 4 mimpi baru, yaitu peneliti, motivator, entrepreneur, dan da’i. Sejak di kampus, ia aktif menulis gagasan ilmiah, mengikuti event-event Nasional dan Internasional, mengajar agama untuk anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), berdakwah dan aktif menulis jurnal ilmiah. Ia tidak hanya aktif mengikuti organisasi-organisasi kampus, maupun di luar kampus, tapi ia juga berperan aktif di tengah masyarakat dengan mengabdi sebagai marbot masjid. Selama ia kuliah S1 di UII ia telah menorehkan lebih dari 30 penghargaan prestasi dari institusi ternama di Dalam Negeri & di Luar Negri.
Ia juga telah beberapa kali menjadi Speaker (pembicara) di kegiatan International Conference di 3 Benua. Ia juga dipercaya Pimpinan Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia menjadi Ketua Mahasiswa Editor Jurnal at-Thullab. Ia juga sempat terpilih menjadi mahasiswa Hukum Islam Berprestasi serta mahasiswa terbaik 2018/2019. Dan sekarang ia menjadi asisten Wakil Dekan II di Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat