KUNCI TERKABULNYA DOA YANG BANYAK ORANG TAHU, TAPI JARANG MENGAMALKANNYA

“Kita tidak pernah tahu entah dari mulut siapa penyebab terkabulnya doa kita, bisa jadi dari mulut mereka yang suci (anak yatim) penyebab terkabulnya” (Ust. H. Abdul Somad, Lc, MA, P.hD) ~ Pendakwah/Ulama Indonesia Asal Riau

Kawan, apa perasaan Anda ketika ada seorang anak yatim yang melintas di depan rumah Anda? Ketika ada anak yatim yang sedang kesulitan hidup, kelaparan, butuh pendidikan, apa yang akan Anda lakukan? Atau tatkala Anda melihat anak yatim sedang sakit yang tak mampu berobat? Anda ingin menolong, memberi dan berbagi, bukan?

Tapi coba kita renungkan kawan, seringkali kita melewati kesempatan berbuat baik itu kepada mereka? Berapa kali langkah kaki kita terayun di dekat mereka? Berapa kali kita melewatkan anak yatim yang mengetuk pintu rumah kita? Namun, kesempatan itu kita sia-siakan, kita sering acuh, tak menghiraukan dan tak mempedulikan mereka.

Terkadang kita memang sedih mengenang masa itu, tapi apalah kata, waktu telah terlampaui perbuatan sudah terbuat, namun yang bisa kita lakukan saat ini adalah jangan sampai terulangi perbuatan yang sangat merugikan itu. Sebab anak yatim banyak yang sangat membutuhkan uluran tangan kita. Bahkan sesuatu keadaan yang sangat menyedihkan lagi, masih banyaknya di antara kita yang tidak bersyukur, mengatakan Allah itu tidak adil. Nauzubillah.

Jika Anda pikir hidup ini tidak adil, maka ingatlah, anak yatim piatu, pengemis, orang-orang tanpa penglihatan, mereka lebih berhak mengatakan bahwa hidup ini tidak adil. Kepada merekalah kita harus memerhatikan, jika kita menginginkan Allah memerhatikan kita. Orang tidak akan peduli seberapa hebatnya kita, seberapa kayanya kita, seberapa pintarnya kita, yang mereka pedulikan hanyalah satu, apakah keberadaan kita memberikan manfaat untuk mereka? Apakah kehadiran kita bisa meringankan beban mereka? Atau kita hanya menjadi semak belukar yang menjadi perusak, atau tidak ada manfaatnya sama sekali.

Oleh kerenanya berilah manfaat, ulurkanlah tangan Anda, dan pancarkanlah terus kebaikan. Boleh jadi saat engkau terlelap tidur, pintu-pintu langit sedang diketuk oleh puluhan doa kebaikan untukmu, dari mereka anak yatim yang telah engkau santuni, anak yatim yang telah engkau berikan makan dan engkau usap kepalanya, atau dari orang fakir miskin yang kelaparan yang telah engkau tolong, atau dari orang yang dihimpit kesulitan yang telah engkau lapangkan, atau dari mereka yang sedih, yang telah engkau bahagiakan…

Maka janganlah sesekali engkau meremehkan sebuah kebaikan… Meski itu tidak bernilai bagi Anda, tapi boleh jadi sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan Anda.. Mungkin kita menerka, keberhasilan yang kita terima adalah buah dari doa dan kerja keras kita. Kita salah besar, sebenarnya kita adalah sedang menolong diri kita sendiri dan kitalah yang lebih membutuhkan dibanding orang yang kita tolong. Sahabatku yang dicintai oleh Allah, belilah doa-doa anak yatim dengan sedekahmu.

Bukankah al-Qur’an menyebutkan bahwa orang-orang yang sudah meninggal berharap kembali ke dunia supaya mereka bisa bersedekah…

Biarkan harta kita laksana angin yang berhembus, datang dengan mudah tanpa dirasakan, dan tersepoi dengan cepat untuk kita sedekahkan…

            Jangan menunggu hari esok, janganlah Anda menunda kebaikan yang ingin Anda perbuat.. karena tidak ada jaminan buat Anda akan hidup untuk esok hari. Percayalah, dengan doa anak yatim, kita bisa selamat dunia dan akhirat, percayalah kawanku semua, dengan bersedekah tidak akan mengurangi sedikit pun harta kita. Jangan Anda samakan hitungan matematika Allah dengan matematikanya manusia. Bukankah Allah pernah menyebutkan di dalam al-Qur’an “Barangsiapa yang berbuat satu kali kebaikan, maka Allah akan menggantinya 10 kali lipat” (QS. Al-An’am ayat 160).

Kawan, percayalah! Dengan memperbanyak sedekah, dengan seringnya Anda menyantuni anak yatim piatu, maka akan mempermudah urusan yang sedang Anda kerjakan. Percayalah kawan, dengan Anda bersedekah,  maka melalui doa-doa mereka (anak yatim) semua impian Anda akan mudah tercapainya.

 “Saat bersedekah kita mencari pecahan mata uang yang nilainya paling kecil di kantong kita. Setelah itu kita mengangkat tangan dan meminta surga Firdaus yang tinggi… sungguh betapa anehnya kita..”. (Syaikh Ali Mustofa Thanthawi, ra.) ~ Ulama Asal Damaskus

About the author

Supriadi, ia Lahir 13 Mei 1998 di Desa Padang Sawah, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Ia adalah putra bungsu dari Bpk H. Sadario dan Ibu Hj. Rosmiati. Ia menempuh pendidikan dimulai dari SDN 017/003 di Desa Kelahirannya, dilanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Dar-El Hikmah Pekanbaru-Riau selama 6 tahun. Waktu berjalan dan terus berjalan, hingga Allah menakdirkan ia masuk di Prodi Hukum Islam, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Di sana ia memiliki 4 mimpi baru, yaitu peneliti, motivator, entrepreneur, dan da’i. Sejak di kampus, ia aktif menulis gagasan ilmiah, mengikuti event-event Nasional dan Internasional, mengajar agama untuk anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), berdakwah dan aktif menulis jurnal ilmiah. Ia tidak hanya aktif mengikuti organisasi-organisasi kampus, maupun di luar kampus, tapi ia juga berperan aktif di tengah masyarakat dengan mengabdi sebagai marbot masjid. Selama ia kuliah S1 di UII ia telah menorehkan lebih dari 30 penghargaan prestasi dari institusi ternama di Dalam Negeri & di Luar Negri.
Ia juga telah beberapa kali menjadi Speaker (pembicara) di kegiatan International Conference di 3 Benua. Ia juga dipercaya Pimpinan Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia menjadi Ketua Mahasiswa Editor Jurnal at-Thullab. Ia juga sempat terpilih menjadi mahasiswa Hukum Islam Berprestasi serta mahasiswa terbaik 2018/2019. Dan sekarang ia menjadi asisten Wakil Dekan II di Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat