MAU SUKSES? ARTINYA ANDA SIAP MENDERITA

Sahabatku, semoga ini jawaban untukmu.. hidup adalah rasa, dan cinta adalah rasa yang tak biasa. Jika hidup Anda punya cinta, harusnya Anda punya aksi yang juga tak biasa.

Aku teringat buku yang pernah aku baca, yaitu perkataan bijak dari Presiden Soekarno, “beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 orang pemuda, niscaya akan kugoncangkan dunia”.

kawanku semua, pemuda itu panas membara, sehingga kemampuannya melebihi 1000 orang tua sekalipun.  Ini bukanlah sebuah untaian kata saja, namun sebuah fakta yang harus kita buktikan. Kita sering lupa, yang bermanfaat kita biarkan berlalu begiu saja. Masa muda hampir terlewat dan kita harus beranjak, tidak ada lagi waktu untuk berpangku tangan, saatnya kita berlari lebih cepat. Jangan biarkan orang lain meremehkanmu, karena Anda masih muda.

Jangan biarkan mereka meremehkanmu karena kepandaian yang minim, dan banyak kelemahan. Tidak peduli usia kita, tidak peduli apa status kita, tidak penting banyaknya kekurangan kita, yang terpenting siapa pun yang punya gagasan dan ide, mereka punya tempat untuk sukses di negeri ini.

Menuju sukses, maka akan ada banyak penderitaan yang akan kita lalui. Karena tak akan sama ujian yang dihadapi mereka yang ingin menjadi penghafal al-Qur’an dengan mereka yang tidak. Tak akan sama perjuangan para santri yang sedang mondok dengan mereka yang tidak. Tak akan sama lelah dan payah yang dirasa para pejuang yang ingin meraih cita-cita yang tinggi, jelas dan terarah, dengan mereka yang tidak.

Maka saat Anda sedang lelah, merasa kepayahan yang berat seperti kehilangan semangat, bersyukurlah karena asamu mulia. Bangkitlah! Kembalilah berjuang! Karena tidak ada usaha yang tidak membuahkan hasil. Selama kita iringi dengan doa dan tawakkal.

Kawanku semua, mari melihat sejenak keteladanan perjuangan Nabi kita Muhammad Saw dan para sahabatnya, mereka menempuh jalan penderitaan hingga membuat mata ini basah bercucuran air mata, namun berkat kesabaran atas penderitaan itu, akhirnya beliau bisa meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Namun, banyak juga para pemimpin kita di negeri ini yang menderita namun pada akhirnya, bisa meraih kesuksesan yang diimpikannya.

Mungkin Anda sudah pernah mendengar bahwa Rasulullah pernah memakai baju sobek yang penuh dengan tambalan. Rasulullah sering kali kelaparan, lantaran tidak ada makanan di rumahnya. Kisah ini bermula hampir setiap Rasulullah pulang ke rumah, bila tidak ada makanan yang dihidangkan oleh istrinya, beliau hanya tersenyum sambil menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu istrinya di dapur. Hal ini diceritakan oleh istrinya Aisyah, kalau Rasulullah berada di rumah pasti ia membantu istrinya.

Bahkan pernah Rasulullah pulang pagi ke rumah, lantaran malamnya banyak urusan yang dikerjakan oleh beliau. Kala itu, pagi-pagi beliau pulang ke rumah, tentulah beliau amat lapar. Tetapi dilihatnya di rumah tidak ada satu pun yang bisa dibuat sarapan. Bahkan yang mentah pun tidak ada, karena istrinya Aisyah belum ke pasar.

Maka beliau bertanya, belum ada sarapan ya, Yaa Khumairah? (panggilan mesranya Rasulullah kepada istrinya Aisyah). Aisyah menjawab dengan agak merasa bersalah “belum ada yaa Rasulullah”. Kemudian Rasulullah menjawab “ya sudah, saya puasa saja hari ini”, masya’Allah tabarakallah, sedikit pun tidak ada raut wajah kesal dan marah di wajahnya.

Pernah juga, suatu ketika Rasulullah menjadi imam shalat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan antara satu rukun ke rukun lainnya amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi kemerutuk, seolah-olah sendi-sendi pada lutut beliau yang mulia itu bergeser antara satu dengan yang lain.

Umar yang sudah tidak tahan melihatnya, memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah usai shalat: Umar bertanya “Yaa Rasulullah, kami melihat tuan sedang merasakan penderitaan yang amat berat, apakah Anda sakit yaa Rasulullah?“Tidak yaa Umar, saya Alhamdulillah sehat wal afiat,” ujar beliau. “Tapi yaa Rasulullah, kenapa setiap pergerakan satu rukun ke rukun lainnya, kami mendengar seperti ada pergeseran sendi di tubuh baginda?” desakan Umar dengan penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya, para sahabat sangat terkejut. Perut Rasulullah yang kempis, kelihatan di liliti sehelai kain yang bersisi batu krikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi setiap kali Rasulullah melakukan pergerakan.

Dalam berdakwah, Rasulullah juga pernah dilembari batu dan diusir oleh penduduk kampung Thaif. Rasulullah bersama sahabatnya Zaid berusaha menyelamatkan diri dari hujan batu yang dilempari warga Thaif. Badan Rasulullah dan sahabatnya Zaid yang penuh dengan lumuran darah dan sambil menahan rasa sakit.

Berbagai usaha yang dilakukan oleh orang kafir Mekkah untuk menghalangi dakwah Rasulullah. Dalam perjalanan dakwah Rasulullah, cacian maki sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Rasulullah. Tidak hanya cacian, penyiksaan fisik bahkan penghinaan di depan umum pun beliau rasakan.

Begitulah pintas kisah Rasulullah dari sekian banyak kisah lainnya yang membuat mata ini basah  bercucuran air mata. Beliau adalah seorang kekasih Allah, seorang Rasul, seorang pemimpin, seorang panglima besar, namun beliau juga pernah merasakan jalan penderitaan. Sobat, dengan jalan penderitaan itu, Rasulullah telah sukses membawa risalah Allah dalam menuntun umat agar bertauhid kepada Allah Swt.

            Kalau kita membuka buku-buku sejarah, ternyata tokoh-tokoh kita di negeri ini juga banyak yang mengalami penderitaan, hidup dalam kesederhanaan, namun, berbuah manis atas kesuksesan yang dicapainya. Mereka adalah Mohammad Hatta yang tak mampu membeli sepatu impiannya hingga akhir hayat, Buya Hamka yang menghabiskan separuh usianya dalam penjara, Presiden Soekarno yang sering mengalami hidup di penjara dan diasingkan oleh Kolonel Belanda, Jenderal Sudirman yang terkena penyakit di saat memimpin peperangan untuk kemerdekaan Indonesia, dan masih banyak kisah-kisah haru tokoh-tokoh kita yang menginspirasi dan membuat mata bercucuran air mata.

Namun, dari penderitaan yang dialami mereka, akhirnya mereka bisa meraih kesuksesan yang hingga hari ini dikenang masyarakat Indonesia dan dunia.

            Kawanku semua, jika menginginkan kesuksesan, bersiaplah menderita terlebih dahulu. Karena jalan sukses berarti bersiap menuju jalan penderitaan yang mesti ditempuh. Kita siap tidur paling malam, bangun paling pagi, memberikan waktu yang lebih banyak untuk terus berkarya dan berusaha. Itulah yang bisa membuat seseorang lebih sukses dari yang lain, karena saya yakin bahwa pengorbanan yang banyak akan menuai hasil kesuksesan di masa yang akan datang. Kawan, suatu hari nanti bangsa ini akan menyadari, bahwa kita adalah orang yang dinanti-nantikan kesuksesannya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang menggantikan estafet kepemimpinan-kepemimpinan di masa mendatang. Usia semakin bertambah, kepemimpinan silang berganti, saatnya saya dan Anda yang menjadi pemimpin di negeri ini, pemimpin yang diidam-idamkan oleh rakyat selama ini dalam mimpinya. Semoga suatu hari nanti menjadi kenyataan.

About the author

Supriadi, ia Lahir 13 Mei 1998 di Desa Padang Sawah, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Ia adalah putra bungsu dari Bpk H. Sadario dan Ibu Hj. Rosmiati. Ia menempuh pendidikan dimulai dari SDN 017/003 di Desa Kelahirannya, dilanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Dar-El Hikmah Pekanbaru-Riau selama 6 tahun. Waktu berjalan dan terus berjalan, hingga Allah menakdirkan ia masuk di Prodi Hukum Islam, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Di sana ia memiliki 4 mimpi baru, yaitu peneliti, motivator, entrepreneur, dan da’i. Sejak di kampus, ia aktif menulis gagasan ilmiah, mengikuti event-event Nasional dan Internasional, mengajar agama untuk anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), berdakwah dan aktif menulis jurnal ilmiah. Ia tidak hanya aktif mengikuti organisasi-organisasi kampus, maupun di luar kampus, tapi ia juga berperan aktif di tengah masyarakat dengan mengabdi sebagai marbot masjid. Selama ia kuliah S1 di UII ia telah menorehkan lebih dari 30 penghargaan prestasi dari institusi ternama di Dalam Negeri & di Luar Negri.
Ia juga telah beberapa kali menjadi Speaker (pembicara) di kegiatan International Conference di 3 Benua. Ia juga dipercaya Pimpinan Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia menjadi Ketua Mahasiswa Editor Jurnal at-Thullab. Ia juga sempat terpilih menjadi mahasiswa Hukum Islam Berprestasi serta mahasiswa terbaik 2018/2019. Dan sekarang ia menjadi asisten Wakil Dekan II di Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat