Rasulullah SAW dan Cahaya

Oleh: al-ustadz. Wandi Bustami, Lc. MA.g

Di kala penduduk Mekkah mengalami degradasi moral yang tajam, Allah swt mengutus seorang manusia agung. Ia bukan saja mulia dari segi nasab, budi pekerti yang baik dan suka membantu antar sesama. Muhammad muda menjadi suluh di tengah kegelapan. Syekh Sofiyurrahman dalam ar-Rahiq al-Makhtum bertutur: Muhammad muda telah berhasil menyatukan pertikaian antar kabilah melalui peristiwa peletakkan hajar Aswad pasca renovasi bangunan Ka’bah.

Setelah diutus menjadi seorang Nabi, beliau benar-benar telah menjadi cahaya penerang kegelapan bagi penduduk Mekkah khususnya dan jazirah arab umumnya. Sifatnya yang menerangi kegelapan itu mendapat legitimasi dari Allah swt.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلُـنَا يُبَيِّنُ لَـكُمْ كَثِيْرًا مِّمَّا كُنْتُمْ تُخْفُوْنَ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ ۗ قَدْ جَآءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌ

Artinya:

Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari (isi) kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menjelaskan. (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 15)

Imam al-Baghawi (w 516 H) dalam Ma’alimi an-Tanzil berkata: Nur (cahaya) yang dimaksud ayat di atas ialah Nabi Muhammad saw. Al-Khazin (w 725 H) dalam Lubabu at-Ta’wil fi Ma’ani at-Tanzil berkata: Nabi Muhammad saw disebut sebagai cahaya dikarenakan beliau menunjukkan jalan hidayah dan menerangi kegelapan.

Rasulullah saw sendiri ialah cahaya. Dengan sifatnya itu beliau menerangi orang-orang yang terperangkap di kegelapan. Kegelapan kekafiran, kemusyrikan dan kemunafikan. Dengan akhlak mulia yang tertanam di dalam dirinya itu mampu menjadikannya seorang pemimpin dan panutan umat sepanjang masa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰ خِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

Artinya:

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21).

Syekh al-Mutawalli as-Sya’rawi (w 1419 H) dalam Khawatir berkata: Rasulullah saw merupakan panutan dalam segala hal yaitu panutan dalam bentindak, berbicara, melihat dan memberi. Maka apapun yang datang darinya wajib diambil.

Rasulullah saw mengajarkan umatnya sebuah doa ketika hendak ke masjid. Doa yang diajar itu agar mendapat cahaya.

Rasulullah Bersabda:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا

Artinya:

Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya di dalam pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di hadapanku, cahaya di belakangku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku dan muliakanlah cahaya bagiku”. (HR. Bukhari).

Badruddin al-‘Aini (w 855 H) dalam Umdah berkata: Yang dimaksud meminta cahaya dalam hadits ini ialah meminta ditunjukkan kebenaran dan taufik dalam segala hal. At-Tibbi berkata: Maksud meminta cahaya untuk anggota tubuh ialah segala ma’rifat dan ketaatan diliputi oleh cahaya dan dijauhi dari selain keduanya karena setan mengampiri manusia dari enam arah.

Rasulullah saw meminta kepada Allah swt untuk diberi cahaya pada: 1) Qalbu, 2) Penglihatan, 3) Pendengaran, 4) Arah Sebelah Kanan, 5) Arah Sebelah Kiri, 6) Arah dari Atas, 7) Arah dari Bawah, 8) Arah dari Depan dan )9 Arah dari Belakang, 10) Dirinya Cahaya Meminta cahaya dari segala arah dan anggota tubuh bertujuan agar diterangi dalam menjalankan kehidupan.

Orang yang telah dilapangkannhatinya oleh Allah untuk menerima Islam maka ia sesungguhnya telah mendapatkan cahaya dalam hidupnya karena agama Islam itu sendiri adalah cahaya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهٗ لِلْاِ سْلَا مِ فَهُوَ عَلٰى نُوْرٍ مِّنْ رَّبِّهٖ ۗ فَوَيْلٌ لِّلْقٰسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اُولٰٓئِكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Artinya:

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 22).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يُرِ يْدُوْنَ اَنْ يُّطْفِـئُــوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَ فْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّٰهُ اِلَّاۤ اَنْ يُّتِمَّ نُوْرَهٗ وَلَوْ كَرِهَ الْـكٰفِرُوْنَ
Artinya:

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai. (QS. At-Taubah 9: Ayat 32)

Orang-orang beriman yang telah mendapatkan cahaya Allah swt memiliki keistimewaan tersendiri. Bila mereka berbuat maka pasti mendatangkan manfaat yang banyak, bila mereka berfirasat maka firasatnya itu bisa menjadi acuan dan pedoman dalam bertindak.

Rasulullah Bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللَّهِ

Artinya:

Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: Takutlah pada firasat orang mu`min karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah.” (HR. Tirmizi).

وقال عمرو بن نجيد: كان شاه الكرماني حادَّ الفراسة لا يخطئ، ويقول: من غض بصره عن المحارم، وأمسك نفسه عن الشهوات، وعمّر باطنه بالمراقبة، وظاهره باتباع السنة، وتعوّد أكل الحلال، لم تخطئ فراسته

Artinya:

Umru bin Najib berakata: Syah al-Karmani ialah orang yang memiliki firasat yang tajam yang jarang meleset, dan dia pun berkata: “Siapa yang menjaga pandangannya dari perkara haram, menahan diri dari gejolak syahwat, memakmurkan batinnya dengan sifat muraqabah, mengikuti sunnah, makan yang halal maka firasatnya tidak akan salah”. (HR. Tirmidzi).

Amalan Untuk Mendapatkan Cahaya.

  1. Membaca al-Quran

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاٰ مِنُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَا لنُّوْرِ الَّذِيْۤ اَنْزَلْنَا ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya:

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan” . (QS. At-Taghabun 64: Ayat 8)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا النَّا سُ قَدْ جَآءَكُمْ بُرْهَا نٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَاَ نْزَلْنَاۤ اِلَيْكُمْ نُوْرًا مُّبِيْنًا

Artinya:

“Wahai manusia! Sesungguhnya telah sampai kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Qur’an).” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 174)

  1. Berwudhu’

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ۚ نُوْرُهُمْ يَسْعٰى بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَ يْمَا نِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَاۤ اَ تْمِمْ لَـنَا نُوْرَنَا وَا غْفِرْ لَـنَا ۚ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya:

Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrim 66: Ayat 8)

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَالَ رَقِيتُ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ عَلَى ظَهْرِ الْمَسْجِدِ فَتَوَضَّأَ فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ
Artinya:

Dari Nu’aim bin Al Mujmir berkata, “Aku mendaki masjid bersama Abu Hurairah, lalu dia berwudlu’ dan berkata, Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dengan wajah berseri-seri karena sisa air wudlu, barangsiapa di antara kalian bisa memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan”. (HR. Bukhari).

  1. Berjalan ke Masjid

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ بُرَيْدَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَشِّرْ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya:

Dari Buraidah dari dar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Berilah kabar gembira bagi orang yang berjalan pada malam gelap gulita menuju masjid (untuk shalat berjama’ah) bahwa bagi mereka cahaya yang sempurna pada hari kiamat nanti”. (HR. Abu Daud).

  1. Shalat

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ذَكَرَ الصَّلَاةَ يَوْمًا فَقَالَ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً مِنْ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ تَكُنْ لَهُ نُورًا وَلَا نَجَاةً وَلَا بُرْهَانًا وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ
Artinya:

Dari Abdullah bin Amr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa suatu hari beliau menyebutkan tentang shalat. Beliau bersabda: “Barangsiapa yang menjaganya (shalat) maka ia akan menjadi cahaya, hujjah dan keselamatan baginya dari neraka pada hari kiamat. Barangsiapa yang tidak menjaganya (shalat) maka ia tidak akan menjadi cahaya, tidak pula keselamatan dan hujjah baginya, dan pada hari kiamat, ia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf”. (HR. Ad-Darimi)

  1. Uban

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya:

Dari Amru bin Abasah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tumbuh satu bulu uban di jalan Allah, maka bulu uban tersebut akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat”. (HR. Tirmizi)

Oleh: al-Ustadz. Wandi Bustami, Lc. MA.g

About the author

Supriadi, ia Lahir 13 Mei 1998 di Desa Padang Sawah, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Ia adalah putra bungsu dari Bpk H. Sadario dan Ibu Hj. Rosmiati. Ia menempuh pendidikan dimulai dari SDN 017/003 di Desa Kelahirannya, dilanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Dar-El Hikmah Pekanbaru-Riau selama 6 tahun. Waktu berjalan dan terus berjalan, hingga Allah menakdirkan ia masuk di Prodi Hukum Islam, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Di sana ia memiliki 4 mimpi baru, yaitu peneliti, motivator, entrepreneur, dan da’i. Sejak di kampus, ia aktif menulis gagasan ilmiah, mengikuti event-event Nasional dan Internasional, mengajar agama untuk anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), berdakwah dan aktif menulis jurnal ilmiah. Ia tidak hanya aktif mengikuti organisasi-organisasi kampus, maupun di luar kampus, tapi ia juga berperan aktif di tengah masyarakat dengan mengabdi sebagai marbot masjid. Selama ia kuliah S1 di UII ia telah menorehkan lebih dari 30 penghargaan prestasi dari institusi ternama di Dalam Negeri & di Luar Negri.
Ia juga telah beberapa kali menjadi Speaker (pembicara) di kegiatan International Conference di 3 Benua. Ia juga dipercaya Pimpinan Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia menjadi Ketua Mahasiswa Editor Jurnal at-Thullab. Ia juga sempat terpilih menjadi mahasiswa Hukum Islam Berprestasi serta mahasiswa terbaik 2018/2019. Dan sekarang ia menjadi asisten Wakil Dekan II di Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (2020).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat