SUKSES TERBESAR DALAM HIDUPKU:

Sebuah Pencapaian, Sebuah Perspektif

Saya lahir dari seorang anak petani karet yang tinggal dikampung yang indah dan bersih di desa Padang Sawah, Kecamatan Kapar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Pada saat berumur 6 tahun saya sangat ingin masuk sekolah dasar, tetapi ketika itu keadaan saya dan kedua orangtua tidaklah berada di desa tersebut, karena sulitnya lapangan pekerjaan di kampung yang membuat kedua orangtua saya pergi ke sebuah desa yang terletak di seberang sungai nan jauh di sana.

Perjalanannya memakan waktu kurang lebih 1 jam dari desa tempat saya tinggal, jalan itu penuh lumpur dan akses yang sangat sulit. Kemudian disaat saya berumur 7 tahun barulah saya masuk sekolah dasar dan tinggal bersama abang kandung saya yang juga waktu itu masih SMA dan orangtua kami pergi untuk mencari nafkah.

Setelah tamat dari sekolah dasar tahun 2011 saya melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru-Riau. Enam tahun saya mondok disana, ada banyak ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan, saya juga tidak pernah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan tersebut untuk belajar dengan giat. Memang sejak mengenyam pendidikan di pesantren selama 6 tahun, tidak ada yang dapat dibanggakan.

Tetapi di luar kelas saya aktif mengikuti berbagai organisasi dan perlombaan dan saya juga pernah mewakili pesantren sekaligus kota Pekanbaru untuk mengikuti LPPTQ yang nantinya siap mengikuti ajang MTQ tingkat Kota Pekanbaru. Acara itu di buka oleh wakil wali Kota Pekanbaru, yakni bapak Ayat Cahyadi, S.H.I. selaku ketua LPPTQ Kota Pekanbaru. Dan Alhamdulillah saya juga mampu Menghafal kitab Mawadi Awwaliyyah (Ushul fiqh) sebelum tamat dari pesantren dan diberi penghargaan oleh Kepala Sekolah.

Kemudian, disaat saya  kelas 1 Madrasah Aliyah saya sudah mampu menjadi Khotib Jum’at, khatib sholat Idul Fitri dan Idul Adha serta setiap bulan Ramadhan memberikan Tausiyah di masjid-masjid sekitar kampung bahkan kampung tetangga. Setelah saya tamat dari pesantren tahun 2017, Tuhan menakdirkan saya kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogayakarta.

Di UII saya mengambil Jurusan Hukum Islam, karena saya sangat menyukai belajar yang berkaitan dengan Hukum Islam terlebih lagi saya telah menguasai kaidah Ushul Fiqh (Kitab Mawadi Awwaliyyah) yang menyebabkan pelajarannya menjadi nyambung. Pada saat kuliah semester 1 sampai sekarang saya juga aktif  berorganisasi dan mengikuti berbagai perlombaan. Tentunya belajar tetap jadi nomor satu, buktinya saya Alhamdulillah mendapatkan nilai yang lumayan memuaskan dengan IPK 3,80 walau dengan berbagai kesibukan di organisasi mulai dari Takmir Masjid Al Hidayah Kimpulan, Lembaga Kampus, Organisasi Ikatan Keluarga Alumni Ponpes Darel Hikmah (IKAPDH) Wilayah Yogyakarta, Rumah FIAI Menulis, Ketua Editor Jurnal di kampus dan masih banyak lagi.

Selain itu saya juga aktif sebagai Muballigh (Da’i) dan Mengajar TPA serta Menjadi Khotib jum’at di beberapa masjid wilayah Sleman (Yogyakarta). Selama 6 semester kuliah sarjana, saya telah menulis buku sebanyak 3 buah, menjadi asisten wakil dekan, menulis jurnal lebih dari 20 buah, dan sudah mempublikasikan tulisan ilmiah saya di jurnal internasional bereputasi sebanyak 11 kali. Tak hanya itu, saya juga sering menjadi pemateri di seminar nasional yang pesertanya tidak hanya dari mahasiswa tapi juga ada dari dosen dan menjadi speker di beberapa benua untuk mempresentasikan hasil riset saya di kegiatan international conference. Setidaknya selama kuliah ada puluhan karya dan prestasi yang telah saya kumpulkan. Tidak hanya bercerita tentang prestasi, tapi selama kuliah saya juga menjalankan beberapa bisnis yang omsetnya puluhan hingga ratusan juta per-bulannya, dengan profit 2.5-10% (sebelum pandemi Covid-19).

Lalu, apakah ini kesuksesan terbesar buat saya? TIDAK. Ini bukanlah kesuksesan saya. Ini adalah kesuksesan kedua orangtua saya, mereka yang telah membesarkan, mendidik dengan kasih sayangnya dan doa di setiap sujudnya. Ini juga kesuksesan abang-abang saya, karena mereka yang telah merawat disaat kedua orangtua saya pergi di kampung nan jauh untuk mencari sesuap nasi. Sungguh, ini adalah kesuksesan guru-guru saya atas keikhlasan dalam setiap ajarnya. Keberhasilan saya ini hanya doa dari harapan dan impian mereka.

Lalu di mana letak kesuksesan saya? Kesuksesan saya adalah ketika berhasil melatih anak didik saya berpidato sewaktu saya di pesantren tempat saya belajar dulu, kesuksesan saya adalah disaat ada teman-teman saya yang ingin belajar menulis jurnal dan mereka sudah ada yang berhasil mempublikasikan karya ilmiah mereka. Saya merasa sukses ketika saya mampu mengajarkan anak-anak didik TPA saya untuk membaca al-Quran dan mengajarkan ilmu fikih, aqidah akhlak serta bahasa Arab. Saya juga merasa sukses ketika masjid yang saya tinggali selama kuliah yang masjidnya kecil serta sepi jamaahnya, kemudia saya dan teman-teman punya semangat untuk merenovasi dan mencari donatur hingga menjadi masjid megah seperti sekarang ini dengan jamaah yang lumayan ramai. Saya juga mersa sukses ada puluhan orang yang terinspirasi dengan kata-kataku, dari yang tidak ada niat kuliah dan tidak ada biaya kemudian kita berikan fasilitas bantuan dan cara agar mereka bisa mencari peluang agar bisa kembali kuliah. Dan saya juga merasa sukses, ketika ada mahasiswa calon doktor yang konsultasi ke saya terkait tesisnya, yang meminta saya juga sebagai menjadi reviewer tesis dan jurnalnya yang akan di publikasikan ke jurnal Internasional indek scopus dan saya sekaligus yang mempublikasikannya dan mereka sekarang telah meraih gelar doktornya.

Kesuksesan lebih pantas diukur dari sudut pandang orang lain, walaupun kedengarannya masih klasik tapi sangat relevan, karena “sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya buat orang lain“. Dengan segala kerendahan hati, kesuksesan sebaiknya dinilai dari sudut pandang mereka yang mendapatkan manfaat dari setiap kontribusi kita terhadap kehidupan, termasuk oleh hewan dan tumbuhan dalam bahasa mereka masing-masing.

Kesuksesan terbesar dalam hidup saya adalah ketika mampu menjadi pemimpin yang baik dan mengangkat derajat mereka yang dipimpin. Kesuksesan terbesar dalam hidup saya bahkan mungkin hanya dapat dinilai oleh generasi penerus bangsa yang suatu saat merasakan manfaat dari apa yang saya lakukan saat ini. Kesuksesan terbesar saya jika nanti nama saya disebut disekolah-sekolah, di desa dan di kota, sebagai salah satu putra terbaik bangsa ini. Dan merekalah yang pantas untuk bercerita kepada dunia.

About the author

Supriadi, ia Lahir 13 Mei 1998 di Desa Padang Sawah, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Ia adalah putra bungsu dari Bpk H. Sadario dan Ibu Hj. Rosmiati. Ia menempuh pendidikan dimulai dari SDN 017/003 di Desa Kelahirannya, dilanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Dar-El Hikmah Pekanbaru-Riau selama 6 tahun. Waktu berjalan dan terus berjalan, hingga Allah menakdirkan ia masuk di Prodi Hukum Islam, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Di sana ia memiliki 4 mimpi baru, yaitu peneliti, motivator, entrepreneur, dan da’i. Sejak di kampus, ia aktif menulis gagasan ilmiah, mengikuti event-event Nasional dan Internasional, mengajar agama untuk anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), berdakwah dan aktif menulis jurnal ilmiah. Ia tidak hanya aktif mengikuti organisasi-organisasi kampus, maupun di luar kampus, tapi ia juga berperan aktif di tengah masyarakat dengan mengabdi sebagai marbot masjid. Selama ia kuliah S1 di UII ia telah menorehkan lebih dari 30 penghargaan prestasi dari institusi ternama di Dalam Negeri & di Luar Negri.
Ia juga telah beberapa kali menjadi Speaker (pembicara) di kegiatan International Conference di 3 Benua. Ia juga dipercaya Pimpinan Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia menjadi Ketua Mahasiswa Editor Jurnal at-Thullab. Ia juga sempat terpilih menjadi mahasiswa Hukum Islam Berprestasi serta mahasiswa terbaik 2018/2019. Dan sekarang ia menjadi asisten Wakil Dekan II di Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (2020).

5 Comments:

  1. Lanjutkan, sangat menginspirasi generasi milenial.. Semoga kedepannya akan banyk lahif generasi-generasi seperti antum 🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat